Tampilkan postingan dengan label tugas matematika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tugas matematika. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 April 2012

TEORI GAGNE DAN PAHAM KONSTRUKTIVISME


(TEORI GAGNE DAN PAHAM KONSTRUKTIVISME)
BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Pembelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang wajib dijelaskan pada anak sekolah terutama anak SD. Untuk memahami konsep belajar matematika hendaknya para calon pendidik maupun guru paham mengenai dasar teori maupun model pembelajaran matematika.
Belajar matematika merupakan belajar yang dilakukan secar terus-menerus dalam bentuk soal-soal latihan. Gagne  mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia yang terjadi setelah belajar secara terus-menerus, bukan hanya disebabkan oleh pertumbuhan saja. Beliau merupakan guru besar yang mengembangkan teorinya yang dikenal dengan teori “the conditions of learning” .
Pembelajaran secara terkondisi akan meningkatkan kepekaan terhadap daya ingat siswa, terlebih dalam kegiatan pembelajaran dengan acuan berpusat pada siswa melibatkan siswa dalam  belajar. Hal ini lebih khusus lagi jika siswa diarahkan untuk membangun pengetahuan mereka tentang suatu materi matematika tertentu. Siswa membangun sendiri skemanya serta membangun konsep-konsep melalui pengalaman-pengalamannya. Pengalaman-pengalaman tersebut diperoleh melalui keterlibatan siswa dengan lingkungannya.
Oleh karena itu calon guru maupun guru untuk mengetahui fase-fase teori belajar Gagne dan pendekatan konstruktivisme, sehingga guru bisa memodifikasi atau mendesain setiap pembelajaran sesuai dengan materi ajar.

B.    Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.     Bagaimana penjelasan teori belajar Gagne ?
2.     Apa yang dimaksud paham konstruktivime ?
3.     Bagaiamana implementasi paham konstruktivisme dalam pembelajaran matematika ?
4.     Contoh penerapan konstruktivisme !



Senin, 19 Maret 2012

makalah CTL

BAB I
PENDAHULUAN

Pendidikan di Indonesia pada umumnya mempunyai ciri-ciri cenderung memperlakukan peserta didik berstatus sebagai obyek, guru berfungsi sebagai pemegang otoritas tertinggi keilmuan dan indoktrinator, materi bersifat subject-oriented, dan manajemen bersifat sentralistis. Pendidikan yang demikian menyebabkan praktik pendidikan kita mengisolir diri dari kehidupan riil yang ada di luar sekolah, kurang relevan antara apa yang diajarkan dengan kebutuhan dalam pekerjaan, terlalu terkonsentrasi pada pengembangan intelektual yang tidak berjalan dengan pengembangan individu sebagai satu kesatuan yang utuh dan berkepribadian. Hal ini mengidentifikasikan bahwa dalam pembelajaran di sekolah guru masih menggunakan cara-cara tradisional atau konvensional.
Oleh karena itu, pemerintah mengadakan satu terobosan untuk meningkatan mutu pendidikan dengan terjadi pergeseran paradigma pendidikan dari teacher active learning menjadi student active learning. Terobosan yang telah dilakukan pemerintah ini menunjukkan bahwa peran aktif siswa dalam pembelajaran merupakan suatu keharusan. Salah satu strategi pembelajaran yang dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan dengan produktif dan bermakna bagi siswa adalah strategi pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang selanjutnya disebut CTL. Strategi CTL fokus pada siswa sebagai pembelajar yang aktif, dan memberikan rentang yang luas tentang peluang-peluang belajar bag mereka yang menggunakan kemampuan-kemampuan akademik mereka
untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan nyata yang kompleks (Depdiknas, 2002: 15). Dalam makalah ini akan dibahas tentang pembelajaran kontekstual.











BAB II
PEMBAHASAN

A.    PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
1.      Pengertian Pembelajaran Kontekstual
Model pembelajaran dengan kontekstual adalah terjemahan dari istilah Contextual Teaching and Learning (CTL). Kata contextual berasal dari kata context yang berarti “ hubungan, konteks, suasana, atau keadaan”. Dengan demikian contextual diartikan “ yang berhubungan dengan suasana (konteks)”, sehingga CTL dapat diartikan sebagai suatu pembelajaran yang berhubungan dengan suasana tertentu.
Pembelajaran kontekstual pertama kali diajukan pada awal abad ke-20 di USA oleh John Dewey. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa secara natural pikiran mencari makna konteks sesuai dengan situasi nyata lingkungan seseorang, dan itu dapat terjadi melalui pencarian hubungan yang masuk akal dan bermanfaat.
Pembelajaran Kontekstual melibatkan para siswa dalam aktivitas penting yang membantu mereka mengaitkan pelajaran akademis dengan konteks kehidupan nyata yang mereka hadapi. Beberapa pendapat tentang pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut :
a)      Nanang Hanafia (2009 : 67) menyatakan bahwa Contextual Teaching and Learning yang umumnya disebut dengan pembelajaran kontekstual merupakan suatu proses pembelajaran holistik yang bertujuan untuk membelajarkan peserta didik dalam memahami bahan ajar secara bermakna (Meaningfull) yang dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata, baik berkaitan dengan lingkungan pribadi, agama, sosial, ekonomi maupun kultural. Sehingga peserta didik memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dapat diaplikasikan dan ditransfer dari satu konteks permasalahan yang satu ke permasalahan lainnya.
b)      Wina Sanjaya (2008: 120) menyatakan bahwa Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka
c)      Syaiful Sagala (2005 : 88) menyatakan bahwa Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari – hari.
d)     Rusman (2009: 240) mengatakan pendekatan Kontekstual adalah keterkaitan setiap materi atau topik pembelajaran dengan kehidupan nyata. Untuk mengaitkannya bisa dilakukan berbagai cara, selain karena memang materi yang dipelajari secara langsung terkait dengan kondisi faktual, juga bisa disiasati dengan pemberian ilustrasi atau contoh, sumber belajar, media, dan lain sebagainya yang memang baik secara langsung maupun tidak diupayakan terkait atau ada hubungan dengan pengalaman hidup nyata. Dengan demikian, pembelajaran selain akan lebih menarik, juga akan dirasakan sangat dibutuhkan oleh setiap siswa karena apa yang dipelajari dirasakan langsung manfaatnya
e)      Elaine B. Johnson (2007: 65) memaparkan bahwa CTL (Contextual Teaching and Learning) adalah sebuah sistem yang menyeluruh. CTL terdiri dari bagian-bagian yang saling terhubung. Jika bagian-bagian ini terjalin satu sama lain, maka akan dihasilkan pengaruh yang melebihi hasil yang diberikan bagian-bagiannya secara terpisah
f)       Menurut Jonhson CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan untuk menolong para siswa melihat siswa melihat makna didalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subyek-subyek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka.
g)      Menurut Akhmad Sudrajat Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.
      Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual merupakan suatu model pembelajaran yang memberikan fasilitas kegiatan belajar siswa untuk mencari, mengolah, dan menemukan pengalaman belajar yang lebih bersifat konkret (terkait dengan kehidupan nyata) melalui keterlibatan aktivitas siswa dalam mencoba, melakukan, dan mengalami sendiri. Dengan demikian, pembelajaran tidak sekadar dilihat dari sisi produk, tetapi yang terpenting adalah proses.

RPP MATEMATIKA KONTEKSTUAL

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan    : 
Mata Pelajaran          :  Matematika
Kelas/Semester          :  III (Tiga) / II (Dua)
Materi Pokok             :  Bangun Datar
Alokasi Waktu           :  2 x 35 menit (1 x pertemuan)
 A.    Standar Kompetensi
5. Menghitung keliling, luas persegi, dan persegi panjang serta penggunaannya dalam pemecahan masalah.
B.     Kompetensi Dasar
5.2 Menyelesaikan luas persegi dan persegi panjang.
C.    Indikator Pembelajaran
1. Menemukan rumus luas persegi panjang dan menentukan atau menghitung luas persegi
panjang.
2. Menentukan atau menghitung luas persegi panjang.
D.    Tujuan Pembelajaran
Setelah memperagakan langsung dan diskusi :
1.      Siswa dapat menemukan rumus luas persegi panjang dan menentukan atau menghitung luas persegi panjang.
2.      Siswa dapat menentukan atau menghitung luas persegi panjang
3.      Karakter siswa yang diharapkan :        Disiplin (discipline), rasa homat dan perhatian (respect), tekun (dilligence), kooperatif (cooperative) dan bertanggungjawab (responsibility).
E.     Metode/Pendekatan Pembelajaran
1.      Metode Pembelajaran
1.      Ceramah variasi
2.      Diskusi
3.      Tanya-jawab
4.      Praktek langsung
5.      Penugasan
6.      Kerja kelompok
2.      Pendekatan Pembelajaran
Kontekstual
F.     Materi Essensial
- Rumus persegi panjang
- Menghitung luas persegi panjang
G.    Sumber/Alat Pembelajaran
1.      Buku Cerdas Matematika 3B untuk Sekolah Dasar Kelas 3 Semester Kedua, Yudhistira.
2.      Buku Terampil Berhitung Matematika untuk SD Kelas 3, Penerbit Erlangga.
3.      Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Dasar, Model Silabus Kelas 3 SD, BSNP.
4.      LKS (lembar kegiatan siswa)
5.      Model dari kertas berpetak
6.      Tali
7.      Lingkungan sekitar dengan ubin persegi

H.    Langkah-langkah Kegiatan Belajar Mengajar
1. Pertemuan I (70 Menit)
a.      Kegiatan Awal (7 Menit)
Jenis Kegiatan
Alokasi Waktu
Keterangan
  1. Apersepsi dan motivasi
  2. Mengingat kembali pelajaran tentang bangun datar.
  3. Menyampaikan indikator pencapaian kompetensi yang diharapkan.
2 menit
5 menit
Pada kegiatan ini siswa menjadi tahu tujuan dari kegiatan belajar dan termotivasi , hal ini merupakan tujuan pembelajaran kontekstual
b.      Kegiatan Inti (58 Menit)
Jenis Kegiatan
Alokasi Waktu
Keterangan
Eksplorasi
1.      Siswa menghitung luas lantai yang dibatasi dengan tali membentuk persegi panjang dengan menghitung banyaknya ubin yang dibatasi oleh tali tersebut
2.      Siswa mengamati gambar model persegi yang disiapkan oleh
3.      Selanjutnya siswa disuruh menghitung luas persegi panjang apabila 1 ubin merupakan satu satuan luas

11 Menit

Konstruk ilmu pengetahuan dari praktek langsung.




Elaborasi
1.      Siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok yang terdiri dari 5-6 orang
2.      Siswa berdiskusi dengan kelompok untuk menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri untuk mendapatkan luas persegi panjang.
3.      Siswa dalam kelompoknya saling memberikan kontribusi, saling bertukar dan berdiskusi tentang semua gagasan
4.      Tiap kelompok diminta  untuk menuliskan jawabannya di papan tulis dan sekaligus tanya jawab dengan kelompok lain dari mana jawaban tersebut diperoleh atau alasannya mendapatkan jawaban tersebut.
30 Menit

Mengondisikan siswa sebagai masyarakat belajar serta pemodelan antar individu siswa

Siswa mulai mencapai tahap inquiri dan proses questioning
Konfirmasi
1.      Siswa digiring atau dimotivasi kepada jawaban yang benar atas berbagai alternatif jawaban yang telah disampaikan untuk menemukan jawaban yang benar dan cara yang paling mudah.
2.       Mengonfirmasi pemahaman siswa mengenai pengetahuan yang didapat untuk penyelesaian soal pengembangan.
3.       Siswa diberikan kesempatan untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami.
4.       Siswa bersama guru melakukan refleksi untuk pembelajaran pada hari ini.
17 Menit

Konfirmasi dengan memperbarui pengetahuan dan menguatkan pengetahuan yang baru.

Tahap refleksi siswa bebas menafsirkan pengalaman belajar masing-masing.
c.       Kegiatan Penutup (5 Menit)
Jenis Kegiatan
Alokasi Waktu
Keterangan
1.      Guru memberikan evaluasi pada siswa.
2.      Guru menutup pelajaran
5 menit
2 menit
Tahap akhir dengan penilaian sebenarnya



I. PENILAIAN
1.      Kognitif
Jenis Tes                : Tes Tertulis
Bentuk Tes            : Essai
Jumlah Soal           : 5
Skor Max              : 10 ( B X 2)

2.      Afektif
No
Aspek
Kriteria
Skor
1
Afektif
-          Kerjasama.
-          Tanggung jawab.
-          Kedisiplinan ketekunan.
-          Menghargai pendapat temen.
-          Kejujuran.



Keterangan :
A=  Baik sekali ( skor 4 )
B= Baik ( skor 3 )
C= Cukup ( skor 2 )
D= Kurang ( skor 1 )

3.      Psikomotor
No
Aspek
Kriteria
Skor
1
Psikomotor
-          Anak mampu memperagakan bentuk persegi panjang dengan tali