Rabu, 28 Maret 2012

KRITERIA PENETAPAN DAN PEMILIHAN STRATEGI PEMBELAJARAN


BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar belakang
            Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, berbagai upaya perlu kita lakukan. Salah satunya yaitu, upaya yang dilakukan oleh seorang pendidik atau guru, bagaimana ia merencanakan dan melaksanakan pembelajaran di kelas, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien.
Seorang pendidik harus memiliki pengetahuan dan pemahaman secara mendasar tentang pembelajaran, memiliki wawasan yang luas tentang pendidikan atau pembelajaran, dan memiliki kemampuan untuk melaksanakan proses belajar-mengajar di kelas secara baik, mampu mendorong terjadinya proses belajar pada diri anak, serta mampu menciptakan kondisi pembelajaran yang merangsang aktivitas mental dan pikiran anak didik.
 Seiring dengan perkembangan zaman, dimana perkembangan ilmu pengetahuan telah membuat kehidupan semakin kompleks, maka pembelajaran sekarang  tidak sesederhana seperti pembelajaran di masa lalu.
Pendidik tidak hanya sekedar sebagai penyebar informasi, namun juga sebagai pemegang peran ganda lainnya, yang hendaknya didasari oleh rasa tanggung jawab secara professional.
               Pembelajaran merupakan perbuatan yang kompleks, yakni melibatkan banyak komponen dan faktor yang perlu dipertimbangkan oleh seorang pendidik.
            Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran perlu pertimbangan yang arif dan bijak, disesuaikan dengan kondisi yang dihadapi, sehingga tepat dalam menetapkan dan memilih strategi pembelajaran, yang akhirnya dapat mencapai tujuan dari pembelajaran yang akan dilaksanakan.
            Seorang pendidik atau guru dituntut untuk dapat mendesain atau merancang pembelajaran di kelas secara tepat, agar menghasilkan terjadinya proses belajar. Pendidik juga dituntut untuk mampu  melakukan berbagai `jenis tindakan yang menggambarkan peranannya dalam pembelajaran.

  1. Rumusan Masalah
    1. Apa faktor-faktor dalam pembelajaran?
    2. Apa pentingnya strategi pembelajaran?
    3. Apa kriteria penetapan dan pemilihan strategi pembelajaran?
    4. Bagaimana peran guru dalam penetapan dan pemilihan strategi pembelajaran?

  1. Tujuan Penulisan
    1. Untuk mengetahui faktor-faktor dalam pembelajaran.
    2. Untuk mengetahui pentingnya strategi dalam pembelajaran.
    3. Untuk mengetahui kriteria penetapan dan pemilhan strategi pembelajaran.
    4.  Untuk mengetahui peran guru dalam penetapan dan pemilihan strategi pembelajaran.




















BAB II
PEMBAHASAN
                         
A.    Faktor-Faktor Dalam Pembelajaran
Dalam pertimbangan pemilihan strategi pembelajaran, terdapat pembentuk-pembentuk variabel pembelajaran. Dalam pernyataan Hilda Taba, tindakan pembelajaran banyak variabel, yaitu: guru, subject matter, siswa, proses belajar, dan susunan pelajaran. Selanjutnya, variabel-varibel pembelajaran itu sendiri yang merupakan pertimbangan utama dalam memilih dan mengembangkan suatu strategi pembelajaran.
Lawrence T. Alexander dan Robert H. Davis menyebutkan ada empat faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih strategi pembelajaran. Faktor tersebut adalah
1)      Tujuan pembelajaran khusus,
Strategi kegiatan pembelajaran presentasi tepat apabila digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran aspek kognitif dan psikomotor, tetapi tidak tepat untuk afektif. Tujuan pembelajaran afektif lebih tepat menggunakan pola kegiatan interaktif. Tujuan-tujuan pembelajaran segi kognitif tingkat rendah penggunaan metode pembelajaran yang bermacam-macam dapat digunakan dengan hasil yang relatif sama, tetapi apabila tujuan pembelajaran tingkat tinggi seperti mengembangkan kemampuan untuk memecahkan masalah, teknik diskusi, mengembangkan keterampilan berkomunikasi antar pribadi.
2)      Keadaan siswa (karakteristik siswa),
Setiap guru harus menyadari adanya kenyataan bahwa senantiasa terdapat perbedaan individual dikalangan siswa. Berbeda dalam kemapuan belajar, cara belajar, latar belakang, pengalam  dan kepribadian mereka.
3)      Sumber dan fasilitas untuk melaksanakan dari suatu strategi tertentu, dan
Fasilitator menyangkut peralatan, ruangan. Strategi pembelajaran sangat ditentukan oleh jenis dan jumlah sumber yang tersedia untuk melaksanakan strategi secara efektif.
4)      Karakteristik tekhnik penyajian tertentu.
Unsur pokok yang harus diketahui oleh guru adalah sifat dan karakteristik masing-masing metode pembelajarn. Tentunya dapat dipahami bahwa metode tersebut mempengaruhi pemilihan strategi, sebab realisasi penggunaan karenanya adalah wajar untuk dapat menentukan pilihan tentang metode tertentu untuk kegiaitanpembelajaran didahului dengan pemahaman tentang sifat dan karakteristik metode-metode tersebut.
Raka Joni (1980) menyebutkan faktor-faktor penentu aktualisasi pembelajaran dari strtegi pembelajaran. Untuk dapat mengelola dan merancang strategi pembelajaran seorang guru hendaknya menngenal faktor-faktor penentu kegiatan pembelajaran, faktor-faktor penentu tersebut adalah :
·         Karakteristik mata pelajaran yang meliputi tujuan, isi pelajaran, urutan dan cara mempelajarinya.
·         Karakteristik siswa yang mencakup karakteristik perilaku masukan kognitif dan efektif, usia, jenis kelamin, dan lainnya.
·         Karakteristik ekonomi dan administrasi pembelajaran mencakup kuantitas dan kualitas prasarana, alokasi jam peretemuan dan jumlah siswa dalam kelas.
·         Karakteristik guru meliputi filosofinya tentang pendidikan dan pembelajaran kompetensinya dalam teknik pembeljaran, kebiasaan pengalam kependidikan dan lainnya.

B.     Pentingnya Strategi Dalam Pembelajaran.
Strategi pembelajaran memiliki keterkaitan yang kuat dengan tujuan pembelajaran. Keterkaitan tersebut  dapat dilihat dari gambaran perilaku maupun kompetensi  yang harus dimiliki oleh siswa selama dan setelah jam pelajaran dengan cara yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut.
Misalnya, pada mata pelajaran IPS di kelas 4 topik yang berkaitan dengan system social, kemampuan dan tujuan yang ingin dicapai adalah mampu menganalisis masyarakat sebagai sistem sosial. Berikut ini terlihat hubungan antara salah satu tujuan pembelajaran khusus dengan strategi/metode pembelajaran yang dianggap dapat mencapai tujuan ataupun membentuk kompetensi tersebut. Dengan demikian alternatif metode mengajar untuk mencapai tujuan tersebut akan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab.

Tujuan pembelajaran/ kompetensi
Alternatif kegiatan
Mampu menjelaskan aturan yang berlaku di sekolah dan di rumah.
-             Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang aturan-aturan di sekolah dan di rumah.
-             Siswa melakukan Tanya jawab dengan guru tentang aturan di sekolah dan di rumah.

Dalam kurikulum saat ini, strategi/ metode pembelajaran tidak di sajikan secara khusus artinya guru dapat memilih sendiri metode pembelajaran mana yang dianggap sesuai dan efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran maupun pembentukan kemampuan siswa. Untuk memudahkan pemilihan strategi /metode mengajar guru harus memahami tujuan pembelajaran maupun kompetensi yang akan ditempuh sisiwa. Disamping itu guru juga harus memahami karakteristik metode mengajar yang akan dipilih sekaligus memahami dampak kemampuan dari metode tersebut.
Strategi/metode mengajar merupakan salah satu komponen yang harus ada dalam kegiatan pembelajaran karena untuk mencapai tujuan pembelajaran maupun dalam upaya membentuk kemampuan siswa diperlukan adanya suatu metode yang efektif. Penggunaan strategi/metode mengajar harus dapat menciptakan terjadinya interaksi antara siswa dengan siswa maupun antara siswa dengan guru sehingga proses pembelajaran dapat dilakukan secara maksimal.
Strategi/metode mengajar memiliki fungsi sentral dalam pembelajaran yaitu sebagai alat dan cara untuk mencapai tujuan pembelajaran.

C.    Kriteria penetapan dan pemilhan strategi pembelajaran.
Strategi pembelajaran adalah cara-cara yang akan digunakan oleh pengajar untuk memilih strategi kegiatan belajar yang akan digunakan sepanjang proses pembelajaran. Pemilihan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi, sumber belajar, kebutuhan dan karakteristik peserta didik yang dihadapi dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
1.      Batasan Strategi, Metode, dan Teknik Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.
Ø  Pendekatan
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach). Pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centred approaches) menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori. Sedangkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiri serta strategi pembelajaran induktif.
Ø  Strategi
Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning, dan (2) group-individual learning (Rowntree). Dalam strategi exposition, bahan pelajaran disajikan kepada siswa dalam bentuk jadi dan siswa dituntut untuk menguasai bahan tersebut. Sebagaimana yang dikutip oleh Wina, Roy Killen menyebutnya dengan strategi pembelajaran langsung (direct instruction). Dikatakan strategi pembelajaran langsung karena dalam strategi ini, materi pelajaran disajikan begitu saja kepada siswa; siswa tidak dituntut untuk mengolahnya. Kewajiban siswa adalah menguasainya secara penuh.
Dengan demikian, dalam strategi ekspositori guru berfungsi sebagai penyampai informasi. Berbeda dengan strategi discovery. Dalam strategi ini bahan pelajaran dicari dan ditemukan sendiri oleh siswa melalui berbagai aktivitas, sehingga tugas guru lebih banyak sebagai fasilitator dan pembimbing bagi siswanya. Karena sifatnya yang demikian strategi ini sering juga dinamakan strategi pembelajaran tidak langsung. Strategi belajar individual dilakukan oleh siswa secara mandiri. Kecepatan, kelambatan, dan keberhasilan pembelajaran siswa sangat ditentukan oleh kemampuan individu siswa yang bersangkutan. Bahan pelajaran serta bagaimana mempelajarinya didesain untuk belajar sendiri. Contoh dari strategi pembelajaran ini adalah belajar melalui modul, atau belajar bahasa melalui kaset audio.
Berbeda dengan strategi pembelajaran individual, belajar kelompok dilakukan secara beregu. Sekelompok siswa diajar oleh seorang guru atau beberapa orang guru. Bentuk belajar kelompok itu bisa dalam pembelajaran kelompok besar atau pembelajaran klasikal; atau bisa juga siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil semacam buzz group. Strategi kelompok tidak memperhatikan kecepatan belajar individual. Setiap individu dianggap sama. Oleh karena itu, belajar dalam kelompok dapat terjadi siswa yang memiliki kemampuan tinggi akan terhambat oleh siswa yang mempunyai kemampuan biasa-biasa saja; sebaliknya siswa yang memiliki kemampuan kurang akan merasa tergusur oleh siswa yang mempunyai kemampuan tinggi.
Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran juga dapat dibedakan antara strategi pembelajaran deduktif dan strategi pembelajaran induktif.
Strategi pembelajaran deduktif adalah strategi pembelajaran yang dilakukan dengan mempelajari konsep-konsep terlebih dahulu untuk kemudian dicari kesimpulan dan ilustrasi-ilustrasi; atau bahan pelajaran yang dipelajari dimulai dari hal-hal yang abstrak, kemudian secara perlahan-lahan menuju hal yang konkrit. Strategi ini disebut juga strategi pembelajaran dari umum ke khusus.
Sebaliknya, dengan strategi induktif, pada strategi ini bahan yang dipelajari dimulai dari hal-hal yang konkrit atu contoh-contoh yang kemudian secara perlahan siswa dihadapkan pada materi yang kompleks dan sukar. Strategi ini kerap dinamakan strategi pembelajaran dari khusus ke umum.    
Ø  Metode
Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya:
1.      Ceramah
Metode ceramah yang dimaksud disini adalah ceramah dengan kombinasi metode
yang bervariasi. Ceramah yang dimaksud adalah ceramah yang cenderung interaktif, yaitu melibatkan peserta melalui teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.
2.      Diskusi Umum (Diskusi Kelas)
Metode ini bertujuan untuk tukar menukar gagasan, pemikiran, informasi/
pengalaman diantara peserta, sehingga dicapai kesepakatan pokok-pokok pikiran
(gagasan, kesimpulan). Untuk mencapai kesepakatan tersebut, para peserta
dapat saling beradu argumentasi untuk meyakinkan peserta lainnya.
3.      Curah Pendapat (Brain Storming)
Metode curah pendapat adalah suatu bentuk diskusi dalam rangka menghimpun
gagasan, pendapat, informasi, pengetahuan, pengalaman, dari semua peserta.
Berbeda dengan diskusi, dimana gagasan dari seseorang dapat ditanggapi
(didukung, dilengkapi, dikurangi, atau tidak disepakati) oleh peserta lain, pada
penggunaan metode curah pendapat pendapat orang lain tidak untuk ditanggapi.
Tujuan curah pendapat adalah untuk membuat kompilasi (kumpulan) pendapat,
informasi, pengalaman semua peserta yang sama atau berbeda. Hasilnya
kemudian dijadikan peta informasi, peta pengalaman, atau peta gagasan (mindmap)
untuk menjadi pembelajaran bersama.
4.      Diskusi Kelompok
Tujuan penggunaan metode ini adalah mengembangkan kesamaan pendapat atau kesepakatan atau mencari suatu rumusan terbaik mengenai suatu persoalan. Setelah diskusi kelompok, proses dilanjutkan dengan diskusi pleno. Pleno adalah istilah yang digunakan untuk diskusi kelas atau diskusi umum yang merupakan lanjutan dari diskusi kelompok yang dimulai dengan pemaparan hasil diskusi kelompok.
5.      Bermain Peran (Role-Play)
Bermain peran pada prinsipnya merupakan metode untuk ‘menghadirkan’ peran peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu ‘pertunjukan peran’ di dalam
kelas/pertemuan, yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta
memberikan penilaian terhadap .
6.      Simulasi
Metode simulasi adalah bentuk metode praktek yang sifatnya untuk
mengembangkan ketermpilan peserta belajar (keterampilan mental maupun
fisik/teknis). Metode ini memindahkan suatu situasi yang nyata ke dalam
kegiatan atau ruang belajar karena adanya kesulitan untuk melakukan praktek di
dalam situasi yang sesungguhnya
Ø  Teknik
Teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.


2.      Kriteria Pemilihan Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran yang dipilih oleh guru selayaknya didasari pada berbagai pertimbangan sesuai dengan situasi, kondisi dan lingkungan yang akan dihadapinya.
Pemilihan strategi pembelajaran umumnya bertolak dari:
a.       rumusan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan
b.      analisis kebutuhan dan karakteristik peserta didik yang dihasilkan,
c.       jenis materi pelajaran yang akan dikomunikasikan.
Komponen strategi pembelajaran
                                                              i.      Kegiatan Pembelajaran Pendahuluan
Kegiatan pendahuluan sebagai bagian dari suatu sistem pembelajaran secara keseluruhan memegang peranan penting. 
                                                            ii.      Penyampaian Informasi
Penyampaian informasi seringkali dianggap sebagai suatu kegiatan paling penting dalam proses pembelajaran, padahal bagian ini hanya merupakan salah satu komponen dari strategi pembelajaran. Artinya tanpa adanya kegiatan pendahuluan yang menarik atau dapat memotivasi peserta didik dalam belajar maka kegiatan penyampaian informasi ini menjadi tidak berarti.
                                                          iii.      Partisipasi Peserta Didik
Berdasarkan prinsip student centered maka peserta didik merupakan pusat dari suatu kegiatan belajar. Dalam masyarakat belajar dikenal istilah CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) yang diterjemahkan dari’ SAL (Student Active Learning) yang maknanya adalah bahwa proses pembelajaran akan iebih berhasil apabila peserta didik secara aktif melakukan latihan-latihan secara langsung dan relevan dengan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan.
                                                          iv.      Tes
Serangkaian tes umum yang digunakan oleh guru untuk mengetahui
(a) apakah tujan pembelajaran khusus telah tercapai atau belum, dan
(b) apakah pengetahuan, sikap dan keterampilan telah benar-benar dimiliki oleh peserta didik atau belum.
                                                            v.      Kegiatan Lanjutan
Kegiatan yang dikenal dengan istilah follow up dari suatu hasil kegiatan yang telah dilakukan seringkali tidak dilaksanakan dengan baik oleh guru. Dalam kenyataannya, setiap kali setelah tes dilakukan selalu saja terdapat peserta didik yang berhasil dengan bagus atau di atas rata-rata :
a. hanya menguasai sebagian atau cenderung di rata-rata tingkat penguasaan yang diharapkan dapat dicapai 
b. Peserta didik seharusnya menerima tindak lanjut yang berbeda sebagai konsekuensi dari hasil belajar yang bervariasi tersebut.
Gerlach dan Ely (1990, him 173) menjelaskan pola umum pemilihan strategi pembelajaran yang akan digambarkan melalui bagan berikut ini: pemilihan strategi pembelajaran yang didasari pada prinsip efisiensi, efektivftas, dan keterlibatan peserta didik
1.      Efisiensi
Penggunaan strategi pembelajaran yang tepat dan pemilihan metode yang mendukung tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
2.      Efektivitas
Pada dasarnya efektivitas ditujukan untuk menjawab pertanyaan seberapajauh tujuan pembelajaran telah dapat dicapai oleh peserta didik. Perlu diingat bahwa strategi yang paling efisien sekalipun tidak otomatis menjadi strategi yang efektif. 

3.      Keterlibatan Peserta Didik
Pada dasamya keteriibatan peserta didik dalam proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh tantangan yang dapat membangkitkan motivasinya dalam pembelajaran. Strategi pembelajaran yang besifat inkuiri pada umumnya dapat memberikan rangsangan belajar yang lebih intensif dibandingkan dengan strategi pembelajaran yang hanya bersifat ekspositori.
3.      Strategi Kontekstual
Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual 
Beberapa strategi pengajaran yang dapat dikembangkan oleh guru melalui pembelajaran kontekstual, antara lain:
1.      Pembelajaran berbasis masalah
Sebelum memulai proses belajar-mengajar di dalam kelas, siswa terlebih dahulu diminta untuk mengobservasi suatu fenomena terlebih dahulu. Kemudian siswa diminta untuk mencatat permasalahan-permasalahan yang muncul. Setelah itu, tugas guru adalah merangsang siswa untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tugas guru adalah mengarahkan siswa untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan perspektif yang berbeda dengan mereka.
2.      Memanfaatkan lingkungan siswa untuk memperoleh pengalaman belajar
Guru memberikan penugasan yang dapat dilakukan di berbagai konteks lingkungan siswa antara lain di sekolah, keluarga, dan masyarakat. Penugasan yang diberikan oleh guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar di luar kelas. Misalnya, siswa keluar dari ruang kelas dan berinteraksi langsung untuk melakukan wawancara. Siswa diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung tentang apa yang sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang harus dilakukan siswa dalam rangka mencapai penguasaan standar kompetensi, kemampuan dasar dan materi pembelajaran.
3.      Memberikan aktivitas kelompok
Aktivitas belajar secara kelompok dapat memperluas perspektif serta membangun kecakapan interpersonal untuk berhubungan dengan orang lain. Guru dapat menyusun kelompok terdiri dari tiga, lima maupun delapan siswa sesuai dengan tingkat kesulitan penugasan.
4.      Membuat aktivitas belajar mandiri
Peserta didik tersebut mampu mencari, menganalisis dan menggunakan informasi dengan sedikit atau bahkan tanpa bantuan guru. Supaya dapat melakukannya, siswa harus lebih memperhatikan bagaimana mereka memproses informasi, menerapkan strategi pemecahan masalah, dan menggunakan pengetahuan yang telah mereka peroleh. Pengalaman pembelajaran kontekstual harus mengikuti uji-coba terlebih dahulu; menyediakan waktu yang cukup, dan menyusun refleksi; serta berusaha tanpa meminta bantuan guru supaya dapat melakukan proses pembelajaran secara mandiri (independent learning).
5.      Membuat aktivitas belajar bekerjasama dengan masyarakat
Sekolah dapat melakukan kerja sama dengan orang tua siswa yang memiliki keahlian khusus untuk menjadi guru tamu. Hal ini perlu dilakukan guna memberikan pengalaman belajar secara langsung dimana siswa dapat termotivasi untuk mengajukan pertanyaan. Selain itu, kerja sama juga dapat dilakukan dengan institusi atau perusahaan tertentu untuk memberikan pengalaman kerja. Misalnya meminta siswa untuk magang di tempat kerja.
6.      Menerapkan penilaian autentik
Dalam pembelajaran kontekstual, penilaian autentik dapat membantu siswa untuk menerapkan informasi akademik dan kecakapan yang telah diperoleh pada situasi nyata untuk tujuan tertentu. Menurut Johnson (2002: 165), penilaian autentik memberikan kesempatan luas bagi siswa untuk menunjukkan apa yang telah mereka pelajari selama proses belajar-mengajar. Adapun bentuk-bentuk penilaian yang dapat digunakan oleh guru adalah portfolio, tugas kelompok, demonstrasi, dan laporan tertulis.
D.    Peran guru dalam penetapan dan pemilihan strategi pembelajaran
Jasa guru dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan para peserta didik sangatlah besar. Mereka memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak, guna menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM), serta mensejahterakan masyarakat demi kemajuan bangsa dan negara. Salah satu peran guru dalam pembelajaran yaitu dapat memposisikan sebagai orang tua, teman, fasilitator, pengembang kreativitas anak, motivator, dan lain-lain.
1.    Peran Guru dalam Memahami Siswa sebagai Dasar Pembelajaran
Pembelajaran merupakan proses pengembangan pribadi siswa, sehingga perkembangan siswa harus menjadi dasar bagi pembelajaran. Aspek-aspek perkembangan siswa yang mencakup perkembangan fisik dan motorik, kognitif, pribadi, dan sosial mempunyai implikasi penting bagi proses pembelajaran. Implikasi itu menyangkut pengembangan isis dan strategi pembelajaran, dan kerja sama sekolah dengan orang tua.
Proses pembelajaran di sekolah dasar harus bersifat terpadu denagn perkembangan fisik kognitif, sosial, moral, dan emosional. Pendidikan di sekolah dasar ini berorientasi kepada isi, artinya menekankan pada penguasaan ilmu pengetahuan, yaitu materi pelajaran. Pendekatan perkembangan dalam pembelajaran menekankan pada kepadanan kurikulum dan proses pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak. Konsep pendekatan perkembangan ini ada dua dimensi, yaitu dimensi umum dan individual. Sisi penting dari pendekatan perkembangan ini adalah pengetahuan tentang faktor-faktor yang secara individu padan dengan anak tertentu di dalam kelas.
2.    Peran Guru dalam Pengembangan Rancangan Pembelajaran
            Proses pembelajaran merupakan proses inkuiri dan reflektif, yang menekankan pentingnya pengalaman dan penghayatan guru terhadap proses tersebut. Inkuiri di dalam pembelajaran mengandung makna mempertanyakan, menjelajahi lebih jauh dan memperluas pemahaman tentang situasi. Sedangkan refleksi mengimplementasikan adanya dugaan, penilaian dalam pertimbangan faktor-faktor signifikan untuk mencapai tujuan. Rancangan pembelajaran harus dikembangkan atas dasar tujuan-tujuan instruksional yang berorientasi pada perkembangan siswa. Perkembangan adalah tujuan pembelajaran, rancangan pembelajaran baik rancangan jangka pendek maupun jangka panjang mencakaup komponen-komponen sebagai berikut:
a.       Analisis kurikulum, yaitu kegiatan untuk merumuskan rencana dan bahan ajar yang lebih bermakna dan sesuai dengan perkembangan peserta didik.
b.      Tujuan pembelajaran; ada empat tipe tujuan pembelajaran yaitu tujuan perilaku, tujuan pemecahan masalah, tujuan ekspresif, dan tujuan afektif.
c.       Rencana kegiatan berisi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
d.      Rencana evaluasi, terdiri dari kegiatan evaluasi sumatif dan evaluasi formatif.
3.    Peran Guru dalam Pelaksanaan Pembelajaran dan Manajemen Kelas
Pembelajaran yang efektif terwujud dalam perubahan perilaku peserta didik baik sebagai dampak instruksional maupun dampak pengiring. Proses pembelajaran berlangsung dalam suatu adegan yang perlu ditata dan dikelola menjadi suatu lingkungan atau kondisi belajar yang kondusif.
Pendekatan pluralistic dalam manajemen kelas memadukan berbagai pendekatan, dan memandang manajemen kelas sebagai seperangkat kegiatan untuk mengembangkan dan memelihara lingkungan belajar yang efektif.
Masalah pengajaran dan manajemen kelas adalah dua hal yang dapat dibedakan tetapi sulit dipisahkan. Keduanya saling terkait, dimana manajemen kelas merupakan prasyarat bagi berlangsungnya proses pembelajaran yang efektif. Lingkungan belajar dikembangkan dan dipelihara dengan memperhatikan faktor keragaman dan perkembangan peserta didik. Manajemen kelas dikembangkan melalui tahap-tahap perumusan kondisi ideal, analisis kesenjangan, pemilihan strategi, dan penilaian efektivitas strategi. Penataan lingkungan fisik kelas merupakan unsure penting dalam manajemen kelas karena memberikan pengaruh pada perilaku guru dan peserta didik.
4.    Peran Guru dalam Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi adalah proses memeperoleh informasi untuk membentuk judgement dalam pengambilan keputusan. Tahap-tahap evaluasi terdiri dari tahap persiapan evaluasi, tahap memperoleh informasi yang diperlukan, tahap membentuk judgement, dan tahap menggunakan judgement untuk mengambil keputusan. Informasi yang diperlukan untuk kepentingan evaluasi dijaring dengan teknik-teknik inkuiri, observasi, analisis, tes. Pemilihan teknik yang digunakan didasarkan atas jenis informasi yang harus diungkap, sehingga dalam suatu evaluasi bisa digunakan berbagai teknik sekaligus. Pengolahan hasil pengukuran atas hasil belajar dimaksudkan untuk mengevaluasi proses dan hasil belajar siswa.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Seorang pendidik adalah pemegang kunci keberhasilan pembelajaran di kelasnya, karena pada dasarnya peserta didik hanya menjalankan apa yang diperintahkan oleh pendidiknya, atau gurunya.
Maka seorang pendidik harus memiliki kemampuan secara kompleks. Artinya, seorang guru tidak hanya dituntut untuk bisa menguasai ilmu yang akan ditransferkan pada peserta didiknya, tetapi seorang guru juga dituntut untuk memiliki kemampuan bagaimana ia bisa membelajarkan peserta didiknya, mendorong peserta didiknya untuk bisa  aktif melakukan pembelajaran, sehingga seorang murid tidak hanya sebagai manusia kosong kecil yang dijejali berbagai pengetahuan, tetapi tidak tahu untuk apa, dan apa gunanya pengetahuan itu ia dapat.
Oleh karena itu, seorang pendidik harus mampu menetapkan  dan memilih strategi pembelajaran secara tepat, yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi pembelajaran yang sedang dihadapi dan dilaksanakan di kelasnya, sehingga rencana pembelajaran tetap bisa dilaksanakan, dan mencapai tujuan pembelajaran bagi peserta didiknya secara efektif dan efisien, dengan melibatkan secara aktif peserta didiknya.












Daftar Pustaka
Satori, Djam’an, dkk. 2008. Profesi Keguruan. Jakarta: Universitas Terbuka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar