Rabu, 28 Maret 2012

VARIABEL PEMBENTUK PEMBELAJARAN


PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
             Jika kita melihat praktik kegiatan belajar mengajar di lapangan, kita akan menemukan  banyak guru yang belum mengetahui dasar penting dalam pembelajaran yaitu variabel pembelajaran. Padahal pengetahuan yang baik tentang masalah ini akan membuat guru lebih cakap dalam menangani dan memahami permasalahan yang terjadi di sekolah. Sehingga pemahaman guru yang baik  tentang variabel pembentukan pembelajaran dapat mendukung terlaksananya kegiatan belajar mengajar yang lancar.

              Masalah diatas masih ditambah lagi dengan keterbatasan peran pemerintah untuk mencukupi fasilitas yang diperlukan untuk mendukung kondisi pembelajaran yang termasuk dalam variabel pembentukan pembelajaran. Untuk itu diperlukan peran guru yang lebih aktif dan kreatif dalam menciptakan kondisi pembelajaran yang  memadai namun terjangkau. Tidak hanya menunggu peran pemerintah yang tidak pasti.

              Pada dasarnya variable-variabel pembelajaran perlu diperhatikan oleh para pengajar atau guru, agar dapat menuangkan variable-variabel pembelajaran ke dalam desain pembelajaran. Dari pernyataan tersebut, maka  calon guru perlu mengetahui secara mendalam tentang variabel pembentuk pembelajaran. Seorang calon guru juga perlu berfikir kritis apakah model-model desain pembelajaran yang selama ini digunakan masih sesuai dengan paradigma baru pembelajaran. Pengetahuan tersebut bertujuan  agar ketika mereka benar-benar terjun dalam kancah pembelajaran di sebuah sekolah,  mereka akan menjadi guru yang menguasai medan, memahami masalah yang terjadi dalam pembelajaran, dan mampu dengan bijak memyikapi masalah tersebut.

              Dengan latar belakang diatas, maka dalam makalah ini akan dibahas tentang  Variabel Pembentuk Pembelajaran.

B.     TUJUAN
              Makalah ini bertujuan untuk :
1.      Agar para calon guru dapat mengetahui dengan pasti apa variable pembentuk pembelajaran.
2.      Agar makalah ini dapat dijadikan acuan dalam memperbaiki system pembelajaran yang selama ini telah dilakukan oleh para guru.
3.      Dengan adanya ulasan tentang variable pembelajaran ini diharapkan kita sebagai calon guru dapat lebih memahami dan mengembangkan cara atau system pembelajaran yangt akan kita lakukan sehingga dapat mensukseskan tujuan pembelajaran.





















PEMBAHASAN

A.  BAGAN VARIABEL  PEMBELAJARAN
Reigeluth dan degeng mengembangkan variable-variabel penting yang perlu dijadikan kajian dalam pembelajaran sbb :
Tujuan dan karakteristik bidang studi
Kendala dan karakteristik bidang studi
Karakteristik mahasiswa
KONDISI                                     
Strategi pengorganisasian isi pembelajaran
·         Strategi makro
·         Strategi mikro
Strategi penyampaian pembelajaran
Strategi pengorganisasian isi pembelajaran
·         Strategi makro
·         Strategi mikro
METODE


                                   
Keefektifan, efisiensi, dan daya tarik pembelajaran
HASIL
Taksonomi variable pembelajaran
(Adaptasi dari Reigeluth, 1989; dan Degeng, 1991)




B.     KONDISI PEMBELAJARAN
Kondisi  pembelajaran adalah faktor-faktor yang mempengaruhi efek metode dalam meningkatkan hasil pembelajaran. Kondisi pembelajaran meliputi ;
1) Tujuan dan karakteristik bidang  studi/disiplin ilmu, tujuan pembelajaran adalah                          pernyataan tentang hasil pembelajaran apa yang diharapkan dicapai siswa.
2) Kendala dan karakteristik bidang studi/disiplin ilmu, karakteristik bidang studi/disiplin ilmu adalah aspek-aspek suatu bidang studi/disiplinIlmu yang dapat memberikan landasan yang berguna sekali dalam mempreskripsikan strategi pembelajaran. Kendala adalah keterbatasan sumber-sumber, seperti waktu, media, personalia,  dan dana.
3)Karakteristik peserta belajar siswa. Sedangkan karakteristik siswa adlah aspek-aspek atau kualitas perseorangan mahasiswa, seperti bakat, motivasi, kemampuan awal atau hasil belajar yang tealah dimilikinya, harapan, dll.
C.  METODE PEMBELAJARAN
Metode pembelajaran adalah cara-cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran
yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda. Metode pembelajaran meliputi :
1) Strategi pengorganisasian isi/materi (Organizational strategy), adalah metode untuk mengorganisasi isi bidang studi/disiplin ilmu yang telah dipilih dalam pembelajaran. “Mengorganisasi” mengacu pada suatu tindakan seperti pemilihan isi, penataan isi, pembuatan diagram, format dan yang lainya yang setingkat dengan itu. Ada 2 strategy pengorganisasian materi yaitu strategy makro dan strategi mikro.
 2) Strategi penyampaian (Delivery strategy), yaitu metode untuk menyampaikan isi pembelajaran kepada siswa atau untuk menerima serta merespon masukan yang berasal dari siswa. Contoh metode penyampaian :
a.       Metode tanya jawab, dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, sedangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
b.      Metode inkuiri/penemuan, merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/ konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipoteis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan.
c.       Metode kelompok  belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, beekrja dengan masyarakat.
d.      Metode pemodelan, dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajar atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.
e.       Metode refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.

3) Strategy pengelolaan (Management strategi), adalah metode untuk menata interaksi antara siswa dengan variable metode pembelajaran lainnya (Variable strategy pengorganisasian dan penyampaian isi pembelajaran).

D. HASIL PEMBELAJARAN
Hasil pembelajaran adalah semua efek yang dapat dijadikan sebagai indicator tentang nilai dari penggunaan metode pembelajaran di bawah kondisi yang berbeda. Hasil pembelajaran meliputi; 1)Keefektifan (eefectiveness), 2) efisiensi (efficiency), dan 3) daya tarik (appeal). Keefektifan (effectiveness) pembelajaran biasanya diukur dengan tingkat pencapaian belajar siswa. Effisiensi (efficiency) pembelajaran biasanya diukur dari rasio antara keefektifan dan jumlah waktu yang dipakai siswa atau jumlah biaya yang digunakan. Daya tarik (appeal) pembelajaran biasanya diukur dengan mengamati kecenderungan siswa untuk tetap terus belajar.
Berdasarkan variable-variabel pembelajaran di atas dikembangkan alur kegiatan perancangan dan pengembangan pembelajaran. Perencanaan dan pengembanagan pembelajaran merupakan langkah-langkah penting yang harus dilakukan agar terjadi aktivitas belajar yang optimal dalam diri siswa untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan. Penataan langkah-langkah tersebut berupa urutan kegiatan yang perlu dilakukan untuk mencapai hasil yang diharapkan dengan memperhatikan variable-variable penting pembelajaran di atas. 
E. PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN
Berpijak pada klasifikasi variable-variable pembelajaran di atas, dikembangkanlah langkah-langkah perencanaan dan pengembangan pembelajaran sebagai berikut :
1. Analisis tujuan dan karakteristik bidang studi.
Analisis tujuan dan karakteristik isi biadang studi perlu dilakukan pada tahap awal kegiatan perencanaan pembelajaran. Tujuan pembelajaran apa yang diharapkan dikuasai oleh siswa. Gagne (1975) mengelompokkan tujuan pembelajaran ke dalam lima kelompok, yaitu :
  1. informasi verbal
  2. ketrampilan-ketrampilan
  3. strategi kognitif
  4. sikap
  5. psikomotorik.
Bloom (1979) mengelompokkan tujuan pembelajaran ke dalam tiga domain, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Analisis karakteristik  isi bidang studi dilakukan untuk mengetahui tipe isi bidang studi apa yang akan dipelajari siswa apakah berupa fakta, konsep, prosedur ataukah prinsip.
2. Analisis sumber  belajar (kendala )
Sumber-sumber belajar apa yang tersedia dan dapat digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran serta dapat mendukung proses pembelajaran
3. Analis karakteristik siswa
Menganalisis karakteristik siswa untuk mengetahui cir-ciri perseorangan siswa. Cirri-ciri yang dimaksud termasuk diantaranya adalah kematangan tingkat berfikir, motivasi anak, kemampuan awal, bakat, gaya belajar, serta kebutuhan  atau harapannya. Karakteristik siswa harus dijadikan pijakan dalam merencanakan pembelajaran.
4. Menetapkan tujuan belajar dan isi pembelajaran
Langkah menetapkan dan isi pembelajaran memuat rumusan tujuan khusus pembelajaran atau kompetensi apa yang diharapkan dikuasai oleh siswa, serta tipe atau struktur isi pelajaran yang bagaimana yang dipelajari untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan tersebut.
5. menerapkan strategi pengorganisasian isi/materi penbelajaran
strategi pengorganisasian isi/ materi pembelajaran amat dipengaruhi oleh tipe isi dan struktur bidang studi  yang dipelajari. Pengorganisasian materi pembelajaran dapat dilakukan di tingkat makro (kurikulum/silabi) maupun tingkat mikro (satuan tatap muka/SAP).
6. Menetapkan stategi penyampaian isi pembelajaran
Langkah ini didasarkan pada hasil analisis sumber belajar dan kendala. Daftar sumber belajar yang tersedia dijadikan dasar dalam memilih dan menetapkan strategi penyampaian pembelajaran.
7. Menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran
Langkah ini amat tergantung pada hasil analisis karakteristik siswa. Karakteristik siswa dijadikan dasar untuk memilih dan menetapkan strategi pengelolaan motivasional, kontrol belajar, dll. 
8. Mengembangkan prosedur pengukuran hasil pembelajaran
Pengukuran hasil pembelajaran untuk mengetahui tingkat keefektivan, efisiensi, dan daya tarik pembelajaran. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui pengamatan, tes, hasil karya siswa, dan lainnya.

Model desain pembelajaran lain yang banyak digunakan adalah model Dick dan Carey. Ada sepuluh langkah dalam merancang dan mengembangkan pembelajaran menurut mereka yaitu:
  1. Analisis kebutuhan untuk mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum. Kebutuhan adalah kesenjangan antara kondisi sekarang dengan kondisi yang diinginkan. Langkah ini merupakan need assessment, yaitu menganalisis kebutuhan apa yang harus dikuasai siswa sebagai kompetensi yang dibutuhkan dalam kehidupannya. Kompetensi ini berorientasi pada hasil dan implikasi yang diharapkan muncul pada diri siswa melalui serangkaian pengalaman belajar. Berdasarkan kebutuhan akan penguasaan kompetensi ini, diidentifikasikan tujuan-tujuan umum pembelajaran yang harus dikuasai siswa. Tujuan umuau kompetensi  yang tm adalah pernyataan umum tentang hasil belajar yang harus dikuasai siswa, yang dikembangkan mengacu pada kebutuhan atau kompetensi.
  2. Melakukan analisis pembelajaran
Analisis pembelajaran merupakan upaya bagaimana suatu kompetensi dapat dicapai melalui peraturan secara sistematis langkah-langkah pembelajaran baik secara procedural, hierarkis, maupun kombinasi keduanya. Langkah-langkah tersebut sering digambarkan sebagai diagram atau alur atau skema yang tersusun berdassarkan tahap rangkaian pengalaman belajar yang harus dilalui oleh siswa, untuk mencapai kompetensi yang diharapkan.
  1. Menganalisis karakteristik peserta atau siswa dan konteks
Paradigma baru dlam pembelajaran menempatkan kebutuhan siswa sebagai hal yang utama. Ini berarti bahwa upaya apapun dalam peristiwa pembelajaran harus berorientasi dan berfokus serta berpihak pada kebutuhan siswa. Karakteristik siswa sebagai variable kondisi pembelajaran didefinisikan sebagai aspek-aspek atau kualitas perseorangan perserta belajar. Aspek-aspek ini dapat berupa kecerdasan, motivasi belajar, gaya kognitif, gaya belar, dan gaya terpenting adalah kemampuan awal atau hasil belajar yang telah dimilikinya. Kemampuan awal sebagai kemampuan prasyarat sangat diperlukan sebagai dasar pijakan dalam memilih bahan dan strategi pembelajaran. Karakteristik siswa ini perlu diperhatikan karerna akan berpengaruh kepada proses dan hasil belajarnya.
  1. Merumuskan tujuan-tujuan khusus
Langkah berikutnya merumuskan tujuan-tujuan khusus pembelajaran. Tujuan khusus adalah pernyataan-pernyataan khusus tentang hasil pembelajaran yang diinginkan. Tujuan ini merupakan penjabaran dari tujuan-tujuan umum yang telah ditetapkan, dengan memperhatikan karakteristik siswa serta konteks yang ada, tujuan khusus ini akan bermanfaat untuk mempersepsikan strategi pembelajaran ditingkat mikro. Tujuan khusus ini juga yang akan member arah isi atau materi yang akan dipelajari, sekaligus cara mengorganisasikan materi. Untuk merumuskan tujuan khusus pembelajaran, biasanya mencantumkan komponen-komponen utama seperti : audienence (siswa), behavior (perilaku atau kemampuan), conditions (kondisi/konteks) dan degree (criteria). Untuk lebih mudah biasanya digunakan mnemonic.
  1. Pengembangan Alat penilaian
Penilaian merupakan suatu upaya untuk mengetahui perubahan kemampuan atau perliaku yang terjadi dalam diri siswa baik secara kuantitatif maupaun kualitatif, setelah melalui proses belajar. Untuk mengetahui hasil belajar secara menyeluruh maka penilaian harus dilakukan secara komperhensif, artinya ; a. isi penilaian mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotor. b. semua isi pembelajaran yang telah dipelajari harus terungkap dalam penilaian. c. alat penialian lengkap, tidak hanya terbatas pada satu macam alat saja.
Sel;ain alat penilaian harus komperhensif, juga harus memenuhi prinsip-prinsip ;
a.       Harus sesuai untuk mengukur tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan
b.      Harus dapat mengukur penguasaaan materi-materi yang mengukur hasil belajar
c.       Alat evaluasi direncanakan dengan matang, dengan kisi-kisi
d.      Untuk memperbaiki kualitas belajar siswa
e.       Memiliki daya kepercayaan tinggi (ketepatan hasil)
f.       Memiliki daya pembeda dan derajat kesukaran yang sama

  1. Mengembangkan strategi pembelajaran
Strategi pembelajaran dikembangkan berdasarkan student oriented. Strategi pembelajarn menurut Reigluth (1998) dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu ; strategi pengorganisasian, isi pembelajaran, strategi penyampaian pembelajan, dan strategi pengelolaan pembelajaran. Strategi apapun yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan dan tujuan apa yang harus dikuasai yang harus dikuasai siswa. Kaitannya dengan persamaan kurikulum berbasis kompetensi, strategi pembelajan diutamakan pada aketrampilan memecahkan masalah. Pengetahuan procedural sebagai proses kognitif dalam mengidentifikasi, mendefifinisikan, mengaplikasikan, menginduksi dan membuat deduksi serta mengevaluasi, merupakan kemampuan-kemampuan yang perlu dikuasai dalam memecahkan masalalah.proses berfikir kreatif yang melibatkan aktivitas mental, emosional dan fisik, perlu dikembangkan. Pendekatan-pendekatan konstruktivistik, kreatif-produktif, konstektual, teaching learning, problem bestlearning dan juga kooperatif dan kolaboratif learning merupakan konsep-konsep penting dalam mengembangkan strategi pembelajaran.
  1. Mengembangan dan memilih bahan pembelajaran
Pemilihan materi atau bahan pembelajaran mengacu pada tujuan-tujuan khusus pembelajaran. Langkah ini berhubungan dengan tindakan-tindakan untuk memilih isi, menata isi, mengurutka, membuat rangkuman, diagram, format, gambar, atau yang setingkat dengan itu. Bahan-bahan pembelajaran dapat digali dari berbagai sumber, seperti dengan cara mengumpulkan isu-isu yang sedang berkembang, hasil-hasil penelitian, literature, pendapat para ahli, kebijakan pemerintah, serta hal-hal yang ada dalam kehidupan masyarakat. Diperlukan upaya dan kreativitas guru untuk menggali kemungkinan-kemungkinan, memperjelas dan memperluas penguasaan materi siswa dengan berbagai sumber belajar. Atau, belajar berbasis aneka sumber.
  1. Merancang dan menyusun evaluasi formatif
Evaluasi selalu berhubungan dengan upaya pengambilan keputusan, karena hasil evaluasi merupakan landasan untuk menilai suatu program pembelajaran dan memutuskan apakah program apat diteruskan dan masih perlu diperbaiki lagi. Untuk keperluan itu dibutuhkan berbagai mabam data atau informasi. Evaluasi yang dimaksudkan sebagai proses (evaluasi formatif) bertujuan untuk menentuan tingkat pencapaian tujuan-tujuan pembelajaran. Pendekatan yang dilakukan melipiti :
a.       Merumuskan tujuan umum sesuai analisis kebutuhan, serta materi pelajan
b.      Menjabarkan tujuan umum kedalam tujuan-tujuan khusus yang dapat diukur atau diamati.
c.  Menentukan kondisi dimana siswa dapat melakukan unjuk kerja yang diharapkan.
d. Menyusun instrument yang memenuhi persyaratan obyektivitas, validitas dan   
    rehabilitas.
e. Penerapan instrument sebelum, selama dan sesudah program dilaksanakan.
f. Analisis hasil evaluasi untuk menentukan keberlanjutan pelaksanaan program.

9. Merancang dan menyusun evaluasi sumatif
Evaluasi sumatif sebagai evaluasi hasil belajar adalah penting dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam belajar. Kegiatan evaluasi ini perlu dilakukan secara kontinyu untuk mengetahi proses perkembangan atau kemajuan belajar siswa dari waktu ke waktu. Hasil evaluasi harus dapat memberikan informasi sejauh mana siswa telah atau belumdapat menguassai kompetensidan tujuan-tujuan belajar yang diharapkan. Selain untuk mengetahui penguasaan belajar siswa, hassil evaluasi ini juga dapat  digunakan sebagai landasan pengambilan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan proses seleksi dan penempatan, perbaikan system pembelajaran, pengembangan kurikulum dahkan untuk mengetahui akuntabilitas lembaga pendidikan.


10.Revisi Pembelajaran
Berdasarkan hasil evaluasi, perbaikan program dapat dilakukan secara sistematis untuk meningkatkan hasil pembelajaran yang terkait dengan keefektifan, efisiensi dan daya tarik pembelajaran.
Hasil dan analisis pengembangan seluruh langkah di atas akan menjadi bahan untuk  ditata atau disusun kedalam satuan pembelajaran  yang siap dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran.
Seperti telah diurakan pada bab-bab sebelumnya , masih banyak permasalahan belajar dan pembalajaran yang dihadapi bangsa  ini. Disisi lain, berbagai pembaharuan di bidang pendidikan danpembelajaran juga telah dilaksanakan, seperti perubahan kurikulum, pengembangan berbagai setrategi, peningkatan dan media pembelajaran, perbaika sitem evaluasi dan sebagainya. Namun, sejauh mana keberhasilannya? Hingga kini kualitas pendidikan atau pembelajaran dirasakan belum meningkat hal ini mendorong para ahli pembelajaran untuk merubah paradigma yang selama ini digunakan beralih ke paradigm baru yang berpijak pada pandangan kognitf-konstruktivistik. Sebab ada keyakinan bahwa komponen-komponen pendidikan atau pembelajaran apapun yang diubah untuk ditingkatkan jika paradigm yang melandasinya tidak berubah maka hasilnya akan sama saja yaitu kurang efektif.

Pandangan atau paradigma yang selama ini dianut adalah pandangan behavioristik. Pandangan ini sudahsekian lama dianut di negri ini, sehingga sudah terpatri didalam system pembalajaran di Indonesia. Banyak pendidik merasa enggan merubah kebiasaan yang sudah bertahun-tahun, sebab apa yang dilakukannya sudah dianggap baik. Belajar menurut pandangan behavioristik adalah menambah pengetahuan atau mengubah perilakua anak. Anak harus daapat mengungkapkan kembali informasi atau materi pelajaran yang telah dipelajarinya di sekolah.  Pandangan demikian dianggap sebagai satu-satunya yang benar.

Paradigm konstruktivistik lebih memperhatikan bagaimana manusia mengkonstruk atau membentuk pengetahuannya lewat pengalaman-pengalamannya, sehingga terjadi perubahan-perubahan struktur kognitif  serta keyakinan yang digunakan untuk menginterpretasikan obyek-obyek atau pristiwa disekitarnya. Struktur kognitif yang dibentuk adalah unik untuk setiap individu . implikasinya dalam desain pembalajaran adalah Karena siswa membentuk pengertian dan sudut  pandangannya sendiri maka isi pelajaran tidak dapat dispesifikasi. Domain-domain pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari dunia nyata dan informasi dari berbagai sumber diperlukan untuk menganalisis suatu isu.

Tujuan pembalajaran aliran behavioristik lebih menekankan pada hasil belajar yang diharapkan, sedangkan pandangan konstruktivistik tujuan pembelajarannya menekankan pada penciptaan pemahaman yang menuntut aktivitas kreatif –produktif dalam konteks nyata. Oleh sebab itu, penekanan pada ketrampilan berpikir kritis dengan memanfaat informasi-informasi  pada situasi baru sangta diperlukan. Didkusi dan refleksi dengan melibatkan pengalaman konkrit dapat menjadikan belajar lebih bermakna. Denagn memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan kerja kelompok dan memainkan peran yang bervariasi akan dapat menghasilakan belajar lebih kretif dan produktif. Sedangkan evaluasi pembelajaran untuk melihat apakah siswa mampu menyusun pengetahuan secara bermakna dan menggunakan cara berfikir kritis untuk memecahkan masalah. Dengan demikian, evaluasi merupakan bagian utuh dari kegiatan belajar yang tidak terpisahkan dengan proses pembelajaran.









PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Perencanaan dan pengembangan pembelajaran merupakan  langkah-langkah penting yang harus dilakukan agar terjadi aktivitas belajar yang optimal dalam diri siswa untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan. Langkah-langkah tersebut berupa urutan kegiatan yang perlu dilakukan untuk mencapaihasil yang diharapkan,dengan memperhatikan variable-variabel pembentuk pembelajaran.

B.      SARAN
Dalam upaya mengatasi masalah-masalah kehidupan manusia, bidang pendidikan akan dapat menguatkan sumber daya yang ada dalam rangka menghadapi perubahan-perubahan yang menjamur di dalam masyarakat. Pendidikan akan membantu manusia untuk siap dan sigap dalam menyikapi segala hal. Pendidikan yang baik tentunya tidak terlepas dari pemahaman variable yang baik. Kita bisa mewujudkan suatu pembelajaran yang baik karena kita paham apa saja variable pembentuk pembelajaran.  Oleh karena itu kita sebagai pendidik  harus mengetahui apa saja komponen dan variable pembelajaran  agar dapat menciptakan dan memperbaiki sumber daya manusia yang dapat diharapkan dapat membangun bangsa dan negara.












DAFTAR PUSTAKA

Asri, Budiningsih.2006.Strategi Pembelajaran. Yogyakarta
Komponen Pembelajaran yang Efektif. http://www.idonbiu,com . Didownload pada hari Kamis, 30 September 2010. Jam 12:58  WIB. Di kampus II PGSD UNY.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar